Didalam tubuh Lynx, Qian Xu merasa kagum saat merasakan kekuatan tubuh yang dimiliki oleh Lynx.

Tapi sesuatu terjadi.

Sebelum Qian Xu menyentuh inti jiwa Lynx, api kosmik berwarna biru-hitam, membakar langsung esensi roh Qian Xu. Api itu muncul dari seluruh bagian tubuh Lynx.

Tubuh dan jiwa Lynx yang di tempa berulangkali oleh batu meteor membuat tubuh dan jiwa yang dimiliki Lynx tidak dapat dipengaruhi dengan mudah oleh kekuatan dari luar.

"AAARGHHH!!!" jerit Qian Xu. Api itu mulai membakar tubuh spiritualnya, lapis demi lapis. Dia mundur, tapi api itu menempel padanya, membakar dengan panas yang tidak berasal dari dunia ini.

Tubuh roh Qian Xu berasap, terpelanting keluar dari jiwa Lynx. Dalam dunia nyata, asap hitam keluar dari tubuh Lynx lewat pori-porinya, membentuk kembali sosok Qian Xu yang kini tampak jauh lebih lemah, kabur, dan tercabik seperti sobekan kain.

"Tidak… ini tidak mungkin… tubuh ini… bukan tubuh manusia…"

Lynx berdiri dengan napas berat. Mata merahnya menyala sesaat, lalu kembali normal. Ia menatap Qian Xu yang mengejang di udara, tubuhnya nyaris tak bisa mempertahankan bentuk. "Aku sudah melewati neraka dan kembali. Tubuhku dibentuk ulang oleh api meteor ribuan kali. Jiwa seperti milikmu… tak akan pernah bisa menguasainya."

Qian Xu terhuyung, lalu berteriak panjang penuh derita. Dia tidak percaya, hari dimana harapannya timbul untuk terbebas dari penjara yang mengurungnya selama ribuan tahun ternyata menjadi hari dia benar-benar terbebas dari dunia ini.  Tubuhnya berubah menjadi asap pekat, lalu tercerai-berai, menghilang perlahan di udara, meninggalkan suara parau terakhirnya.

"Aku… belum… selesai…"

Sosok Qian Xu lenyap tanpa bekas.

Sunyi.

Lynx berdiri diam beberapa saat, tubuhnya masih menegang. Lalu ia menarik napas panjang dan menatap ke arah formasi yang kini mulai retak perlahan.

Lynx berdiri diam beberapa saat, menatap titik terakhir tempat roh Qian Xu lenyap. Hatinya bergejolak. "Aku tidak menyangka pertemuan dengan roh tua itu akan berakhir seperti ini. Satu-satunya petunjuk tentang dunia surgawi… kini menghilang tanpa jejak."

Ia menggertakkan gigi, menahan rasa frustrasi yang perlahan muncul. "Sial… semua ini terlalu cepat."

Lynx menghela napas panjang dan memandang ke sekitar  "Biarlah, aku juga tidak berniat ketempat itu, yang penting kini aku tahu, mereka tidak bisa ke dunia lain begitu saja" gumamnya.

"Sebaiknya aku memeriksa bangunan ini terlebih dahulu, siapa tahu ada benda menarik di tempat ini." Lynx segera menyisir seluruh area lantai tiga Pagoda Qingling. Setiap relief, setiap pilar, bahkan dasar formasi ia periksa, mencari jejak, simbol, atau potongan artefak yang bisa mengarah ke dunia surgawi. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tersisa, seolah Qian Xu telah menghapus semua jejak sebelum menghilang.

"Roh sialan itu benar-benar tidak meninggalkan apapun untukku di tempat ini," batin Lynx kesal.

Dengan langkah berat, ia turun menuju lantai pertama. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Lynx menyadari ada sesuatu yang berbeda.

"Tekanan tempat ini berubah. Sepertinya tekanan yang tadi kurasakan sudah tidak ada lagi." Lynx mengedarkan energinya untuk merasakan perubahan disekitarnya dan menemukan tekanan di lantai lainnya yang sebelumnya tidak bisa dia rasakan kini bisa dirasakan dengan jelas. Dia bisa merasakan Leena sedang meditasi dan Lala masih di ranjang batu.

Lynx mendatangi tempat formasi yang sebelumnya dia perhatikan, formasi yang menahan Qian Xu. Formasi tersebut retak akibat jiwa Qian Xu yang  ditahannya menghilang. Di dekat formasi tersebut, Lynx melihat ada formasi lain.

"Sepertinya ini formasi inti pagoda ini. Qian Xu mengendalikan kekuatan tekanan ruangan tempat ini dari sini."

Setelah mempelajari dan berusaha memahaminya, Lynx mulai bisa memahami cara kerja formasi tersebut dan bisa menggunakannya. Dengan cepat Lynx memperbaiki dan memodifikasi kekuatan  formasi.

"Baguslah, kini ruangan ini sudah seperti sebelumnya. Tapi sungguh aneh, meski sedikit, tapi aku merasakan energi spiritual tempat ini berkurang. Apa yang terjadi sebenarnya?"

Lynx tidak ingin mengambil pusing masalah tersebut, dia memutuskan kembali menemui Leena dan Lala di lantai pertama. "Masih banyak urusan lebih penting harus aku urus. Aku harus menemui Isha, sudah cukup lama dia kutinggal di dunia kecil."

Begitu kakinya menyentuh lantai, ia melihat Leena duduk bersila sambil menjaga Lala yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas batu giok, tubuhnya tampak tenang dan wajahnya sudah lebih cerah dari sebelumnya.

"Lynx!" seru Leena begitu melihatnya.

"Bagaimana Lala?" Tanya Lynx pendek. Lynx merasa ada sesuatu yang berbeda dari Leena, sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

Ia menghampiri, memeriksa kondisi Lala sejenak menggunakan mata langit, lalu menatap Leena.

"Lala seharusnya baik-baik saja. Aku tidak menemukan ada masalah dengan tubuhnya. Aku yakin dia aman di tempat ini.Kita harus bertemu dengan Isha sekarang."

Leena mengangguk, sekilas wajahnya terlihat penuh kekhawatiran namun sekilas kemudian wajahnya terlihat dingin  Tanpa buang waktu, Lynx mengeluarkan artefak berbentuk lonjong seukuran kepalan tangan, artefak dunia kecil.

Lynx mencoba membuka gerbangnya. Tapi tak terjadi apa-apa. Artefak itu bergetar lemah, lalu padam.

"Tidak bisa…" gumamnya, mengernyit. "Sepertinya ruang dimensi lain tak bisa dibuka saat kita masih berada di dalam dimensi yang juga tertutup… seperti Pagoda Qingling ini."

Lynx lalu menoleh ke arah Leena. "Kita harus keluar dulu."

Mereka pun pergi keluar meninggalkan Lala sejenak dan muncul di tengah hutan tempat sebelumnya mereka muncul dari dimensi lain.

Lynx memperhatikan formasi pelindung yang dibuatnya dan tidak menemukan keanehan, Lynx lalu mengangkat artefak pagoda kecil yang berada di atas tanah. Dengan satu gerakan, ia memasukkan kembali  pagoda Qingling ke dalam cincin penyimpanan.

Setelah itu, ia mengaktifkan kembali artefak dunia kecil. Kali ini, pintu gerbang besar membelah udara di hadapan mereka.

"Artefak dunia kecil ini terlalu mencolok jika di gunakan, selain itu siapapun bisa keluar masuk ke tempat ini saat gerbang terbuka. Tapi jika tertutup dari luar, yang terjebak di dalam tak akan bisa keluar hingga seseorang membukakan pintu gerbang ini." Batinnya. "Sayangnya aku lupa menanyakan apa nama artefak ini."

"Pagoda Qingling ini lebih aman dibanding artefak dunia kecil," gumam Lynx pelan saat melangkah masuk. "Tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya."

Leena hanya diam, tatapannya masih tertuju pada Lynx. Dengan niat ingin bertarung dengannya.

Sesaat kemudian, keduanya muncul di dalam dunia kecil, tempat yang sebelumnya mereka gunakan untuk menyembunyikan Isha. Suasana sejuk dan langit violet menyambut mereka.

"Leena, apa kamu mendengarnya? Ada suara tangis." Kata Lynx tidak lama setelah mereka berada di dunia tersebut.

"Isha..." Teriak Lynx  panik, dengan cepat dia bergerak ke tempat Isha berada, disusul oleh Leena. Lynx memasuki formasi yang dibuatnya dan melihat sosok wanita kecil sedang menangis, dari suara serak yang terdengar, Lynx memperkirakan sudah sejak lama Isha menangis.

Tidak lama, Leena datang menyusul. Sosok Isha yang menangis membuat langkahnya terhenti.

Leena dan Lynx memperhatikan Isha, yang sebelumnya terbaring lemah setelah di tangkap kelompok The Circuit, kini telah bangun. Ia duduk di sudut, tubuhnya gemetar, wajahnya basah oleh air mata.

Saat melihat sosok Lynx dan Leena, tatapannya terlihat panik, ketakutan, seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Lynx dan Leena saling berpandangan. Perasaan bersalah menyergap hati mereka. Karena banyak hal yang terjadi, mereka lupa untuk segera memeriksa Isha dan memastikan kondisinya.

"Isha…" panggil Leena pelan.

Gadis kecil itu menatap Leena, dan begitu mengenali wajah Lynx dan Leena, ia semakin ketakutan. Tubuhnya mundur perlahan.

"Kalian… kalian… Kak Lynx dan Kak Leena…!" gumam Isha terbata, ketakutan. "Apakah mereka berhasil menangkap kalian? Aku tidak tahu apa-apa. Tolong jangan hukum aku. Mereka yang ingin menjebak kalian... Mereka juga ingin menjualku..." Isha menangis lagi dengan menyedihkan dan rasa takut.

Lynx menahan napas. Rasa bersalah menumpuk di dadanya. Ia menyadari, dalam semua kekacauan itu, mereka melupakan bahwa Isha masih anak-anak… dan trauma yang ia bawa sangat dalam.

"Isha," kata Leena lembut, mendekat perlahan. "Kami tahu semuanya. Kami minta maaf… kami terlalu sibuk… kami tidak bermaksud meninggalkanmu sendirian disini."

"Kamu tidak perlu khawatir," tambah Lynx. "Kita sudah jauh dari mereka, kamu sudah bebas dan bersama kami sekarang. Aku akan membantumu menemukan keluargamu."

Isha masih menangis, namun tangisnya mulai melembut. Perlahan, ia mulai membuka suara. "Keluargaku… mereka semua sudah… sudah mati… Sara yang bilang…"

"Sara?Apa yang dia inginkan darimu?" tanya Leena. Dia mengingat wanita yang sudah menjebaknya.

Isha mengangguk lemah. "Saat mereka menangkapku, dia menyiksaku dan berkata bahwa dia hanya pura-pura selama ini… Dia berniat menguras harta keluargaku, tetapi karena semua keluargaku terbunuh di planet Orjeon, mereka ingin menjualku… Jadi budak… "

Lynx mengepalkan tangannya.

Isha melanjutkan dengan isak. "Aku… aku tidak punya siapa-siapa lagi…"

Leena mendekap Isha dengan erat, air matanya jatuh juga. "Kamu tidak sendiri, Isha. Mulai sekarang… aku akan menjagamu."

